Photobucket

~Ya Allah, bahagiakan kami dunia akhirat bersama selamanya~

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Saturday, November 13, 2010

,,>Insya Allah versi Melayu<,,


Setiap kali diriku merasa seperti tidak mampu meneruskan hidup lagi...

Terasa sangat kehilangan entah apa...
Menyatakan bahwa diri ku begitu sendirian
Semua ku lihat kelam-malam

Dan kegelapan menyelubungi di seluruh jiwa ku
Adakala nya diriku merasa begitu tak berdaya

Hilang daya ku melihat jalan mana yang harus ku pilih

Namun ku cekal kan hati ku..Jangan ada rasa putus asa
Walaupun aku menapak kecil..
Namun tidak pernah aku kehilangan harapan

Kerna ku yakin Allah selalu di sampingku

Insya Allah akan dapat ku mencari jalan cahaya..

Setiap kali diri ku melakukan satu kesalahan lagi
Terasa bagaikan pintu taubat tertutup bagi ku
Dan bahawa telah lambat untuk ku mencari jalan taubat

Adakala nya diriku menjadi bingung
Keputusan yang salah yang ku pilihKeputusan sebegini menghantui fikiran
Dan hati ku penuh dengan rasa malu

Namun ku cekal kan hati ku..
Jangan ada rasa putus asa
Walaupun aku menapak kecil.. Namun tidak pernah aku kehilangan harapan

Kerna ku yakin Allah selalu di sampingku.

Maher Zain, Thank You Allah

Friday, November 12, 2010

,,>Menjual Waktu dengan Pahala<,,

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16)

Maha Suci Allah yang menggantikan malam dengan siang dan petang pun menyongsong malam. Hari berlalu menyusun minggu. Hitungan bulan-bulan membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada siaran ulang.

Siap atau tidak, waktu pasti akan meninggalkan kita

Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih dekat daripada satu detik yang lalu. Kerana waktu yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan dapat dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.

Begitu pun dengan pelbagai kesempatan yang kita miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang, ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di pagi ini habis, hilang sudah momentum yang boleh diambil kerana belum tentu kita berjumpa dengan pagi esok.

Itulah yang pernah menggugah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, kerana sangat letih, Umar menolak kunjungan seorang rakyat. “Esok pagi saja!” katanya spontan. Khalifah Umar berharap esok pagi ia boleh lebih segar sehingga urusan dapat diselesaikan dengan baik.

Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba menyentak kesadaran Khalifah kelima ini. Rakyat itu mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin akan tetap hidup esok pagi?” Umar pun langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima kunjungan rakyat itu.

Kalau kita menganggap remeh sebuah ruang waktu, sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (Al-Ashr: 1-2)

Siap atau tidak, jatah waktu kita terus berkurang

Ketika seseorang sedang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya ia sedang merayakan berkurangnya jatah usia. Umurnya sudah berkurang satu tahun. Atau, hari kematiannya lebih dekat satu tahun. Dalam skala yang lebih luas, pergantian tahun adalah bererti berkurangnya umur dunia. Atau, hari kiamat lebih dekat satu tahun dibanding tahun lalu.

Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang, peluang kita semakin sedikit. Biasanya, penyesalan datang lewat. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal soleh) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 23-24)

Tak ramai yang sedar, begitu banyak peluang menghilang

Kadang-kala, seseorang menganggap biasa mengisi hari-hari dengan santai, televisyen, video game dan bermacam lagi. Sedikit pun tidak muncul rasa kehilangan. Apalagi penyesalan.

Padahal kalau dihitung, amal kita akan terlihat sedikit jika dibanding dengan kesibukan rutin lain. Dengan usia tiga puluh tahun, misalnya. Selama itu, jika tiap hari seorang tidur lapan jam, ia sudah tidur selama 87 600 jam. Ini bersamaan dengan 3650 hari, atau selama sepuluh tahu

n. Dengan kata lain, selama tiga puluh tahun hidup, satu pertiga cuma dihabiskan untuk tidur.

Jika orang itu menghabiskan empat jam menonton televisyen, setidaknya, ia sudah menonton televisyen selama 43200 jam. Itu sama dengan 1800 hari, atau lima tahun. Bayangkan, dari tiga puluh tahun hidup, lima tahun cuma habis menonton televisyen. Belum lagi urusan-urusan lain. Cakap kosong, mengumpat, jalan-jalan dan sebagainya.

Lalu, berapa banyak waktu untuk ibadah? Kalau satu solat wajib menghabiskan waktu sepuluh minit, satu hari ia solat selama lima puluh minit. Ditambah zikir dan tilawah selama tiga puluh minit, kalaupun buat, ia beribadah selama lapan puluh minit sehari. Jika dikurangkan sepuluh tahun kerana usia kanak-kanak, ia baru beribadah selama 1600 jam. Atau 1.8 peratus dari waktu tidur. Atau 3.7 peratus dari waktu menonton televisyen.

Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa banyak waktu berlalu tanpa nilai. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)

Tak seorang pun tahu, bila waktunya berakhir

Tiap yang bernyawa pasti mati. Termasuk manusia. Kalau dikira-kira, usia manusia saat ini tidak lebih dari enam puluh tahun. Waktu yang begitu sedikit.

Saatnya buat orang-orang beriman memaknai waktu. Biarlah orang mengatakan waktu adalah wang. Orang beriman akan berkata, “Waktu adalah pahala!”

Thursday, October 21, 2010

,,>Cara Menundukkan Pandangan<,,

tunduk

Di Daerah saya ini masih banyak sekali wanita yang tidak menutup aurat (memakai tudung), lalu apakah saya sebagai lelaki berdosa jika setiap kali keluar dari rumah, secara sengaja atau tidak sengaja melihat aurat wanita, sedangkan tidak mungkin saya berjalan dengan terus-menerus menundukkan kepala saya, lalu bagaimana solusinya?

Jawapan:

Bukan hanya di daerah anda bahkan di mana saja kita dapat lihat para wanita pada umumnya tidak mengenakan pakaian yang menutup aurat. Sebaliknya, orang yang memakai tudung (pakaian yang menutup aurat) jumlahnya lebih sedikit dibanding yang tidak menutup aurat. Kalaupun menutup aurat, masih juga telanjang. Karena itu di manapun kita berada akan bertemu dengan pemandangan seperti ini.

Dalam kaca mata syari’ah memang masalah pandangan adalah masalah yang sangat penting. Rasulullah menyebutkan hadis qudsi yang menerangkan bahwa padangan itu seperti panah beracun

النظرة سهم مسموم من سهام إبليس من تركها من مخافتي أبدلته إيمانا يجد حلاوته في قلبه

Pandangan itu adalah panah beracun di antara panah iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut kepadaKu maka akan Aku gantikan dengan keimanan, yang ia dapatkan manisnya di dalam hatinya (HR ath-Thabrani dan al-Hakim)

Tepat sekali Rasulullah membuat ibarat. Orang yang terkena panah beracun, kalaupun panahnya sudah dicabut, racun panah yang masuk ke dalam tubuh akan tetap bekerja. Demikian juga pandangan mata, kalaupun objek yang dilihat sudah tidak nampak di mata, namun pengaruh pandangan itu akan tetap mempengaruhi orang yang memandangnya. Di antara pengaruh pandangan itu adalah, malamnya terbayang-bayang, makan terasa tidak enak, dan muncul rasa ingin bertemu dan seterusnya.

Di dalam pepatah arab kuno dikatakan, ”Semua peristiwa, asalnya karena pandangan. Kebanyakan orang masuk neraka adalah karena dosa kecil. Permulaannya pandangan, kemudian senyum, lantas beri salam, kemudian berbicara, lalu berjanji, dan sesudah itu bertemu….

Menghadapi situasi yang seperti ini solusinya adalah menundukkan pandangan, sebagaimana firman Alah.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.’ yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (An-Nuur:30).

Istilah menundukkan pandangan ini tidak sama dengan menundukkan kepala ke tanah. Menundukkan pandangan juga bukan berarti memejamkan mata. Menundukkan pandangan ialah menjaga dan mengendalikan pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali.

Dengan pengertian demikian, dalam masalah menundukkan padangan ini, tidak ada kata tidak mampu melakukannya terus menerus. Ketika kita tidak mampu menundukkan pandangan terus menerus bererti kita tidak mampu mengendalikan pandangan kita. Bererti juga kita tidak sanggup menahan hawa nafsu kita

Untuk lebih memahami makna menundukkan pandangan ini mari kita semak pesan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib;

يَا عَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ

”Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh”. (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan bahwa pandangan sekejap, atau penglihatan terhadap hal-hal yang haram sesaat yang pertama adalah pandangan yang diampuni. Kewajiban kita untuk tidak memfokuskan pandangan kepada hal yang diharamkan itu. Ketika pandangan mata kita tertumbuk pada suatu objek yang haram, kewajiban kita adalah menyingkirkan pandangan kita (menundukkan mata) ke objek yang lain. Jika kita tidak mahu mengalihkannya, maka pandangan tersebut dinilai sebagai bentuk zina mata sebagaimana sabda Rasulullah

الْعينانِ زِنَاهُما النَّظَرُ

”Dua mata itu mampu berzina, dan zinanya ialah melihat.” (HR Al-Bukhari)

Meskipun di dalam hadis di atas rasulullah menyatakan pandangan pertama itu adalah hakmu, perbanyaklah taubat dan istighfar, karena pandangan yang tidak sengaja itu.

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (An-Nisa’:17)

http://www.assalaam.or.id/


Sunday, October 17, 2010

,,>Bila Yakin telah Tiba<,,


Bila yakin telah tiba,

Teguh didalam jiwa,

Kesabaran menjadi bunga

Sementara waktu berlalu

Penantian tak berarti sia-sia

Saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Zulaikha jalani hari

Sabar menanti Yusuf sang tambatan hati

Dipenantian mencari diri

Memohonkan ampunan dipertemukan

(Reff)

Segera kan kujemput engkau bidadari

Bila tiba waktu kutemukan aku

Ya Ilahi Robbi keras ku mencari diri sepenuh hati

Teguhkanlahku dilangkah ini

Dipencarian hakikat diri


Tuk bersama menuju Mu mengisi hari...

Kini yakin tlah tiba

Teguh didalam jiwa

Dan izinkan kujemput bidadari

Kesabaran adalah permata

Dan waktu terus berlalu

Penantian tak berarti sia-sia

Saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Adam dan Hawa

Turun ke bumi terpisah jarak waktu

Dipenantian mencari diri

Memohonkan ampunan dipertemukan

Bidadari tlah menyentuh hati

Teguhkan nurani

Bidadari tlah menyapa jiwa

Memberikan makna...


Didedikasikan khas: Buat diri-diri yang masih sendiri, bersabarlah anda. Yakinlah di sebalik keseorangan itu punya hikmah yang hanya Allah saja mengetahuinya. Meski waktu terus berlalu, namun tak bermakna yang penantian itu adalah sia-sia. Saat perjalanan dalam kehidupan ini adalah pencarian hakikat diri. Justeru, gunakan waktu ini sebaik-baiknya untuk memuhasabah , mentarbiyyah, dan memperbaiki diri, moga ada sinar telus yang menanti di akhir pencarian itu. Bersabar dan berdoalah moga diperteguhkan iman sehingga saat itu tiba. Yakinlah dengan ganjaran Allah di SANA nanti. Kerana hanya Allah yang maha mengetahui segala yang terbaik buat diri kita.


Buat diri-diri yang telah berpunya dalam erti kata yang sebenar, telah menemui teman seperjalanan dan buat bakal-bakal pasangan yang akan mendirikan 'masjid', tahniah diucapkan. Moga bahgia hingga ke akhirnya. Bersyukurlah kiranya anda dipertemukan dengan sang pendamping untuk saling melengkapi diatas redhoNya. Syabas juga diucapkan kiranya hubungan yang halal itu telah menjadi benteng hawa nafsu, bakal melahirkan mujahid mujahidah sejati, meramaikan umat Muhammad penerus generasi rabbani, yang berpaksikan samara (sakinah, mawaddah wa rahmah). Biarkan syaitan-syaitan itu menangis di atas terbinanya sebuah hubungan cinta nan suci dalam rahmat Ilahi.


Buat diri-diri yang masih berstatus kabur (in relationship/ its complicated?), muhasabah kembali diri anda, adakah anda benar-benar telah yakin untuk meneruskan perhubungan itu? Adakah anda mampu untuk menunggu hingga tiba saatnya perhubungan itu diiktiraf halal dengan lafaz ijab dan kabul tanpa melanggar syariatNya? Ermm, fikir-fikirkan. Bagaimana untuk membina sebuah rumah yang teguh andai tapaknya saja sudah tidak kukuh? Wahai diri-diri, jangan dikau terpedaya dengan cinta palsu yang menipu itu. Cinta yang hanya membuatkan syaitan tertawa suka, kerana telah berjaya menyesatkan anak adam. Hingga terkabur mata, dinampakkan yang haram itu halal dan indah belaka . Justeru, sedarlah wahai diri-diri, kembalilah kepada pencarian hakikat diri, moga di situ kan kau ketemui cinta hakiki miliknya Al-Khaliq, kerana itulah sebenar-benar CINTA.

"If you want to build a faithful family, you can never build it on what Allah has stated as wrong and proven false by the way Rasulullah s.a.w has taught us. In every family that stands until their dying day, they have Allah on their side!"

~Menunggu untuk dijemput. Walau ku bukan bidadari.~



"Semoga ia menjadi ingatan untuk aku supaya memperbanyakkan lagi amal untuk di bawa ke akhirat, pecutan amal aku harus laju kerana masa yang ada sudah semakin suntuk !"


Saturday, September 25, 2010

,,^Salam Lebaran^,,


~Salam Aidilfitri 1431H~

Sunday, September 5, 2010

~Teladani 10 akhir Ramadhan Nabi SAW~

RAMADAN menjanjikan ganjaran yang cukup istimewa bagi seorang Muslim ke arah mengecapi kecemerlangan hidupnya. Hal ini akan terlaksana dan tercapai dengan jayanya.

Pertama; jika setiap hamba benar-benar seorang Muslim yang mengerjakan ibadah puasa berteraskan keimanan dan muhasabah serta mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Kedua; yakin dengan ganjaran yang telah dijanjikan Allah SWT terhadap segala amalannya. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

Sesiapa yang menghidupkan Ramadan dengan penuh keimanan dan penuh kesedaran (mengharap ganjaran Allah) nescaya akan diampuni baginya dosa-dosa yang lalu. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim]

Memasuki detik 10 terakhir Ramadan pesona peribadi dan perilaku Rasulullah SAW terlakar dalam hadis yang diriwayatkan daripada Aisyah r.a yang bermaksud:

Adalah Rasulullah SAW apabila telah masuk 10 akhir daripada Ramadan, Baginda akan menghidupkan malam-malamnya, membangunkan ahli keluarganya dan mengikat pinggangnya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama berbeza pendapat dalam memberi pentafsiran mereka terhadap hadis di atas. Namun demikian mereka sepakat bahawa Rasulullah SAW melipat-gandakan ibadatnya pada 10 malam yang terakhir Ramadan.

Hadis di atas menunjukkan betapa Rasulullah SAW amat memberi tumpuan serius pada detik malam 10 terakhir Ramadan terutama dalam perihal beribadah. Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan daripada Aisyah r.a yang bermaksud:

Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam 10 hari terakhir bulan Ramadan, suatu perkara yang tidak Rasulullah SAW lakukan pada bulan-bulan selainnya. (Riwayat Muslim)

Mengikat kainnya

Ibn Hajar al-Asqalani menyatakan bahawa para ulama mempunyai beberapa pendapat terhadap istilah ‘mengikat kainnya’.

Di antara pendapat yang paling kuat ialah ia membawa dua pengertian iaitu Rasulullah SAW tidak menggauli para isterinya iaitu melakukan hubungan suami isteri (jimak) dan ini digambarkan dengan istilah ‘mengikat kainnya’.

Maksud yang kedua ialah baginda SAW bersungguh-sungguh dalam setiap ibadah yang dilakukannya. Kedua-dua pengertian adalah tepat jika dilihat dari perbuatan Rasulullah SAW tatkala tiba malam-malam 10 akhir Ramadan. (Fath al-Bari 6:310)

Menghidupkan malam harinya

Rasulullah SAW telah memberikan pedoman terbaik kepada umatnya agar melakukan transformasi dengan mengubah malam yang biasa pada bulan-bulan selain Ramadan dengan menghidupkannya dengan melakukan ketaatan melalui gerak kerja ibadah.

Antaranya melakukan solat-solat sunat, membaca al-Quran, beriktikaf terutama di sepertiga malam sewaktu manusia terlena di malam hari. (Fath al-Bari 6:310)

Membangunkan Ahli Keluarganya

Dalam hal gerak kerja beribadah (solat), baginda SAW tidak pernah melupakan atau mengabaikan keluarganya.

Rasulullah SAW menunjukkan contoh terbaik kepada seluruh umatnya terutama ketua keluarga agar tidak mengabaikan keluarga walaupun dalam perihal melakukan ibadah-ibadah sunat.

Perilaku baginda SAW membangunkan ahli keluargannya turut diteladani Khalifah Umar al-Khattab r.a di mana al-Imam Malik dalam Al-Muwatta’ menyebutkan, bahawasanya Umar r.a melakukan solat malam seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT, sehingga apabila tiba waktu pertengahan malam, Umar r.a membangunkan keluarganya agar melakukan solat seraya mengatakan kepada mereka: “Solat! solat!”

Perkara-perkara yang dianjurkan pada 10 malam terakhir Ramadan

Mandi antara Maghrib dan Isyak, memakai pakaian yang paling baik dan memakai haruman

Ibn Abi ‘Asim meriwayatkan dari Aisyah r.a:

“Rasulullah SAW jika berada dalam bulan Ramadan baginda seperti rutin hariannya tidur dan bangun. Tatkala memasuki 10 hari terakhir baginda mengikat kainnya dan menjauhkan diri dari bersama-sama para isterinya, serta baginda mandi antara Maghrib dan Isyak”. (Terdapat riwayat Abu Hurairah yang menyokong hadis ini)

Dalam riwayat lain daripada sahabat seperti Anas ibn Malik dan ulama pada masa tabi’en menyatakan bahawa mereka akan mandi, memakai baju yang paling baik dan memakai haruman atau wangian apabila berada pada akhir Ramadan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sahabat dan tabi’en ini adalah satu usaha menyambut dan meraikan kedatangan lailatul qadr, sambil berdoa mendapatkan keampunan dan keberkatan malam itu. Justeru pada malam-malam terakhir Ramadan di samping mencari lailatul qadr dianjurkan membersihkan diri dan memakai wangian dan haruman, sebagaimana ia turut dianjurkan ketika Aidilfitri dan Aidiladha.

  • Mencari lailatul qadr

Umat Islam dianjurkan agar mencari dan merebut lailatul qadr. Hal ini bertepatan dengan sabda baginda yang bermaksud,

Carilah malam lailatul qadr pada 10 malam terakhir. (riwayat al-Bukhari)

Dalam salah satu riwayat dikatakan bahawa Rasulullah SAW melakukan solat pada malam Ramadan dan membaca al-Quran dengan tertib. Baginda tidak akan melalui ayat rahmat kecuali berharap agar Allah memberikan rahmat itu dan tidak melalui ayat azab kecuali memohon perlindungan daripada Allah daripada azab itu. Solat berjemaah juga sangat diutamakan pada malam akhir Ramadan. Rasulullah bersabda:

“Sesiapa yang mengerjakan solat Isyak dan Subuh secara berjemaah pada waktu malam, dia telah mengambil menghidupkan seluruh malam itu”. (Riwayat Abu Dawud).

Maksudnya sesiapa yang mengerjakan solat Isyak dan Subuh saja dianggap telah mendapat sebahagian apa yang dimaksudkan dengan lailatul qadr. Apatah lagi jika mengisinya dengan amalan lain sepanjang malam itu.

  • Melewatkan sahur

Daripada Sahl ibn Sa’d berkata:

Sesungguhnya aku pernah bersahur bersama keluargaku dan aku sempat untuk sujud bersama dengan Rasulullah SAW. (riwayat al-Bukhari)

Perlakuan ini turut diceritakan oleh Zaid ibn Thabit berkata:

“Kami pernah bersahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami bersolat dengan baginda. Lantas Anas bertanya, Berapakah jarak di antara sahur itu dengan solat? Zaid menjawab, kira-kira 50 ayat. (riwayat al-Bukhari)

  • Melakukan iktikaf

Iktikaf adalah sunnah yang dianjurkan oleh Baginda SAW demi memperolehi kelebihan dan ganjaran lailatul qadr (malam yang lebih baik dari 1,000 bulan). Firman Allah dalam surah al-Qadr yang bermaksud:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) pada malam Lailatul Qadr, dan apa jalannya Engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran malam Lailatul Qadr itu? Malam Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah malam (yang berkat) itu sehingga terbit fajar. (al-Qadr: 1-5)

Menjelang 10 akhir Ramadan secara rutinnya Rasulullah SAW mengisi waktu-waktunya dengan beriktikaf di masjid. Pelakuan baginda ini berdasarkan hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan daripada Aisyah r.a Bahawa Rasulullah SAW beritikaf pada 10 akhir daripada Ramadan sehingga baginda diwafatkan oleh Allah, kemudian (diteruskan sunnah) iktikaf selepas kewafatannya oleh para isterinya. Dalam sebuah hadis lain Bahawasanya Abu Hurairah berkata:

“Rasulullah SAW selalu beriktikaf pada tiap-tiap sepuluh hari terakhir Ramadan, manakala pada tahun Baginda diwafatkan, Baginda beriktikaf selama 20 hari”. (riwayat Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Tirmidzi)

  • Membanyakkan doa

Ulama bersepakat bahawa doa yang paling utama pada malam al-Qadar adalah doa memohon keampunan atau maghfirah daripada Allah SWT. Dalam satu hadis sahih yang diriwayatkan daripada Aisyah dan dikeluarkan oleh al-Imam al-Tirmidzi dan dinilai hasan sahih, Aisyah diajar oleh Rasulullah membaca doa pada malam al-Qadar. Doanya berbunyi:

Allahumma innaka afuwwun karimun tuhibbul afwa fa’ fu anni yang bermaksud:

Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Tuhan Yang Maha Pengampun, yang suka mengampun, maka ampunilah aku. (al-Tirmidzi 5:535)

Rasulullah SAW turut berdoa yang bermaksud:

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah penutupnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana aku bertemu dengan-Mu Kelak”. (Musannaf Ibn Abi Syaibah 6: 65)

~Moga menjadi panduan buat kita semua~

~Bagi mendapat keredhaanNYA~

~Ameen~~~

,,^Sharing Is Caring^,,